Dorama Writers (Part I)

Data tentang penulis naskah/scriptwriter sering dilewatkan oleh sebagian besar fans drama asia saat browsing mencari tontonan. Sebagian besar fans akan melihat pemainnya dahulu (gantengkah? cantikkah? favoritku-kah?) atau genrenya saja, dan segera akan menyingkir begitu tahu tidak ada eye candies atau genrenya sedikit nyeleneh.

ClpGyc6VYAAv-FO

Well, tentu bukan hak saya untuk membatasi kebebasan teman-teman dalam manajemen tontonan. Walaupun begitu, tidak ada salahnya jika pelan-pelan mulailah sempatkan waktu untuk melirik ke nama-nama writer juga. Why? Karena writer memegang peran yang penting dalam produksi drama, kadang lebih penting dari nama besar atau kerupawanan sang pemeran utama. Semoga passage kecil ini bisa menjadi pembuka mata menuju dunia writer dorama yang penuh imajinasi (apaan sih!) XD

Memahami, atau setidaknya mengerti sedikit mengenai gaya, track record, dan kecenderungan dorama writers akan membawa setidaknya 3 (tiga) manfaat :
1.Penulis yang sama cenderung akan memiliki gaya penulisan yang konsisten; jadi jika teman-teman suka dengan gaya di salah satu dramanya, kemungkinan untuk suka karya lainnya akan cukup besar.
2.Mempelajari track record kepenulisan sang penulis bisa menjadi indikator dalam meramalkan mutu upcoming drama. Jika drama upcoming A ditulis si B yang konsisten menulis drama bermutu menengah ke atas dalam 4-5 tahun terakhir, hmmm… chance drama A ini untuk bagus juga akan tinggi.
3.Perhatikan pula apabila sang penulis memiliki hubungan khusus dengan director atau aktor/aktris tertentu (misalnya Yoshiko Morishita dan director Yuichiro Hirakawa; atau Sakamoto Yuji dan Mitsushima Hikari). Kerap bekerja sama akan memberikan chemistry khusus antar mereka dan menjanjikan konsistensi mutu.
Di bawah ini akan saya list beberapa writer yang wajib dikenali para penggemar jdorama.
1.Kudokan alias Kudo Kankuro
Pria multitalenta ini dikenal dengan gaya penulisannya yang random, absurd, jenaka, aneh, namun mampu mencampur berbagai genre dengan oke dan tetap memberikan punchline dan makna/pesan walaupun kadang secara tidak umum/tidak langsung.

1856_900

PL6Vj6bL_0c72eb_f

ryuseinokizuna3

Ambil contoh di Amachan, asadora karyanya. Kudokan berani membolak-balik kaidah asadora yang paten dan mengubahnya menjadi drama yang pop serta unik, menggelitik, dan memikat, dengan puluhan parodi, easter egg, dan tributes/homages ke berbagai acara/ artis/ film. Meskipun dibuat sedemikian jauh di dalam intinya Amachan tetap merupakan asadora NHK dan tetap memberikan nilai-nilai positif pada wanita dan masyarakat. Karya apik lainnya misalnya IWGP (the great KING), Ryusei no Kizuna (dorama dark yang mbanyol), Tiger and Dragon (dorama yakuza ber-rakugo), Manhattan Love Story (waffllleeeeeee…..!!!!) dan Kizarasu Cat’s Eye.

 
2.Sakamoto Yuji
Sakamoto Yuji adalah penulis yang berani menambahkan satu layer/lapisan lagi pada naskah dan realisme dramanya, sehingga dialog, suasana, penokohan, dan pada akhirnya makna/pesannya bisa setengah tingkat lebih artistik (walau, mungkin akan berisiko memberikan aura yang sedikit berat dan kurang crispy/ bukan untuk konsumsi semua orang).

soredemo_ikite_yuku

201109151854421750

20170316142614

Ciri utama Sakamoto-sensei terlihat pada naskahnya yang dialog-heavy : dialog ala Sakamoto Yuji sangatlah padat dan dipenuhi banyak trik-trik cerdas; misalnya berupa smart banter; wise words/kata mutiara; perubahan suasana mendadak yang dramatis dan indah; atau dark humor yang pintar. Contohnya tentu saja paling mudah dilihat di Soredemo Ikite Yuku (kebetulan salah satu drama favorit saya), di mana ia berhasil melukiskan dialog yang awkward namun tulus dan indah antara dua tokoh utamanya (Futaba-Hiroki) yang penuh luka masa lalu. Beberapa notable masterpiecesnya yang lain ialah Mother (mana-chan menyihir Jepang!), Woman (yang belum sampai hati saya tonton), beberapa dorama jadul klasik seperti Tokyo Love Story dan Itoshi kimi e, serta tak lupa Quartet di winter 2017 ini.
(bersambung ke Part 2)

Advertisements

One thought on “Dorama Writers (Part I)

  1. Karakter penulisan yg dialogue-heavy ini yg bikin om Simplimoto gak cocok nulis J-Movie tipe artistik, yang menonjolkan adegan diam dan take camera yg panjang tanpa dialog. Kecuali kl ntah gimana caranya beliau bisa menemukan cara ngebikin film yang ‘rame’ tapi artistik kayak karya om Miike pas masih belum error kayak sekarang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s